Petinggi Hamas Hilang, Israel Bisa Terkena Risiko

Israel baru-baru ini mengeluarkan aksi mengejutkan dengan menghilangkan Saleh al-Arouri, nomor dua di Hamas, di Beirut. Meskipun dianggap sebagai sukses oleh Israel, tindakan ini bisa membuka pintu terjadinya perang lebih besar, khususnya dengan kelompok Hezbollah di Lebanon.

Dalam serangan yang menyasar wilayah Dahiya, markas Hezbollah, Israel memberikan pukulan ganda. Al-Arouri, selain sebagai tokoh Hamas, juga merupakan sekutu dekat Hezbollah.

Kedua kelompok ini bersama-sama membentuk poros perlawanan bersenjata yang dibiayai oleh Iran untuk melawan Israel.

Pemimpin Hezbollah, Hasan Nasrallah, menyatakan bahwa mereka tidak akan tinggal diam menyusul kematian al-Arouri, meskipun belum jelas bagaimana reaksi mereka akan dilakukan.

Baca juga: Ironis, Karyawan SpaceX Dipecat Karena Kritik Elon Musk

Saleh al-Arouri telah lama menjadi target Israel karena dianggap sebagai “otak” di balik serangkaian serangan teroris dan aktivitas bersenjata Hamas.

Bahkan sebelum perang di Gaza pada Oktober, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, telah mengancamnya.

Penghapusan al-Arouri bisa dilihat sebagai bagian dari kampanye luas Israel untuk menyingkirkan para pemimpin Hamas yang terlibat dalam tindakan kekerasan.

Namun, konsekuensi dari tindakan ini masih menjadi tanda tanya besar. Israel menghadapi potensi perang di beberapa front, baik di Gaza, Lebanon, maupun Suriah.

Hal ini dapat mencakup serangan dari kelompok Houthi di Yaman atau milisi pro-Iran di Irak. Tegangan juga terasa dengan penundaan kunjungan Sekretaris Negara Amerika, Antony Blinken, yang telah memperingatkan Israel agar tidak memperluas konflik ke Lebanon.

Sementara itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengungkapkan kekhawatiran terkait perluasan konflik.

Upaya diplomatik Prancis bersama pemerintah Lebanon, Hezbollah, Israel, Amerika Serikat, dan PBB untuk mencapai kesepakatan damai menjadi semakin rumit setelah penghapusan Saleh al-Arouri.

Pertanyaan terbesar sekarang adalah bagaimana semua ini akan berdampak pada situasi di kawasan tersebut. Semua pihak, termasuk Israel, harus bersiap menghadapi berbagai skenario dan berupaya menghindari eskalasi yang lebih besar.

Baca juga: Penelitian: Hampir Separuh Remaja Merasa Kecanduan Medsos

Tinggalkan komentar