Kisah Perjalanan Wave to Earth dari Band Indie sampai Sukses

Pada tahun 2019, tiga pemuda berbakat dari Korea, Kim Daniel, Shin Dongkyu, dan Cha Soonjong, bersatu untuk membentuk band yang bernama “Wave to Earth.”

Dengan tekad untuk menciptakan gelombang baru dalam dunia musik, mereka mulai menapaki perjalanan luar biasa dari band Indie hingga dikenal penjuru dunia.

Awal Terbentuknya Wave to Earth

Pertemanan tiga anggota Wave to Earth dimulai sejak masa sekolah menengah. Kim Daniel dan Shin Dongkyu pertama kali bertemu saat audisi tim pujian di gereja saat masih di SMP.

Dongkyu, yang terkenal dengan bakatnya, menjadi incaran Daniel untuk membentuk sebuah band yang unik.

“Saya terus-menerus mendekatinya dan mengajaknya bergabung dengan band,” ujar Daniel.

Saat mencari bassis yang sesuai dengan gaya bermain Dongkyu, mereka mengingat Cha Soonjong, teman sekelas mereka di SMA.

“Daniel pernah membantu saya dalam pekerjaan album saya. Jadi, pada akhir 2019, saya bergabung dengan mereka dan merilis album EP pertama kami, ‘Wave 0.01,’ pada tahun 2020,” tambah Chasoonjong.

Perjalanan Menuju Album Reguler Pertama: “0.1 Flaws and All”

Setelah memutuskan untuk kembali bersama sekitar tahun 2018, mereka merasa ingin menciptakan musik yang berbeda dari sebelumnya.

Setelah persiapan selama dua tahun, Wave to Earth merilis album reguler pertama mereka yang dinamai “0.1 Flaws and All.”

“Album ini adalah awal yang sesungguhnya bagi kami. Kami memutuskan untuk menikmati dan melakukannya dengan baik, jadi kami hidup bersama selama sekitar sebulan,” ujar Daniel.

Album ini, menurut mereka, memiliki dua sisi yang kontras: satu dengan suasana cerah dan pop, sementara sisi lainnya memadukan suara jazz yang gelap dan sedih.

Makna Album Mereka

Dalam wawancara eksklusif, Daniel mengungkapkan, “Saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan seharusnya tidak menyembunyikannya, melainkan mengakui agar dapat menjadi lebih sempurna.”

Album ini menjadi wadah bagi mereka untuk menyampaikan berbagai emosi, termasuk kegagalan dan kerinduan.

Chasoonjong menambahkan bahwa lagu ‘Home Sick’ membuat mereka terharu saat merekamnya.

“Ketika semua orang mendengarkan lagu yang kami rekam dengan penuh dedikasi, rasanya emosi kami tersampaikan dan banyak yang menangis.”

Hobi dan Persahabatan

Selain dari dasar musik, ketiganya memiliki kesamaan minat dalam desain interior dan furnitur.

“Rasanya seperti menjadi satu tubuh. Sebuah band bernama Silica Gel pernah mengatakan hal serupa, bahwa seiring berjalannya waktu, mereka merasa seperti satu organisme yang bergerak bersama. Kami merasakannya juga,” ungkap Daniel.

Dalam waktu dekat, Wave to Earth akan tampil di berbagai festival internasional, termasuk di Jakarta, Indonesia.

Mereka merasa semakin besar skala acara, semakin berbeda pengalaman yang mereka dapatkan.

Dengan semangat dan keyakinan untuk meninggalkan jejak dalam sejarah musik Korea, mereka berbicara tentang kekuatan yang membuat Wave to Earth terus berkarya.

“Kami memiliki ambisi untuk membuat jejak dalam sejarah musik Korea. Itulah sebabnya kami tidak mudah menyerah,” kata Chasoonjong.

Baca juga: Kisah Cinta Artis Korea: Awal Ketemu Suami yang Dikira Orang Biasa

Tinggalkan komentar